TIPS CETAK DIGITAL YANG MEMUASKAN


Bagi kita yang terbiasa berhubungan dengan dunia percetakan baik itu dokumen, poster, selebaran, ataupun photo tentunya kehadiran digital printing cukup menyenangkan karena dengan proses digital printing data bisa dilakukan secara cepat dan fleksibel. Hal ini disebabkan dalam proses printing digital tidak dibutuhkan film ataupun screen sehingga gambar bisa langsung dicetak dari komputer.

Sama dengan pencetakan konvensional ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan melakukan cetak digital printing agar hasil cetak yang kita peroleh bisa maksimal. Beberapa hal utama yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Ukuran file, usahakan ukuran file dalam proses percetakan sesuai dengan kebutuhan anda,. Apabila anda akan mencetak sendiri atau menggunakan jasa cetak dalam ukuran besar usahakan ukuran file anda juga besar minimal 50% dari ukuran aslinya.

2. DPI file, DPI (Dot Per Inch) angka yang menggambarkan seberapa banyak titik per unit dalam gambar anda. DPI berkorelasi dengan ukuran file, apabila ukuran file anda sudah 100% maka DPI file tidak perlu besar dan apabila ukuran file kurang dari 100% maka DPI file harus besar. Walaupun memanfaatkan jasa cetak, tetapi jika nilai DPI yang tidak seimbang dengan ukuran file akan menyebabkan hasil cetak menjadi pecah. Biasanya untuk cetak digital indoor DPI minimal yang dipakai adalah 72 pixels/inch sedangkan untuk outdoor DPI minimal yang dipakai adalah 35 pixels/inch. Sebagai acuan buat Anda bisa memanfaatkan jasa offset printing, dsb.

p1

MENYUSUN NASKAH IKLAN YANG POWERFUL


Hampir semua kegiatan pemasaran melibatkan tulisan. Kebanyakan iklan di berbagai media memiliki dua unsur utama, yaitu gambar dan tulisan. Pesan iklan disampaikan melalui gambar dan tulisan. Bahkan dalam iklan advertorial, tulisan lebih dominan daripada gambar. Demikian juga ketika anda mengajukan surat penawaran via pos maupun e-mail. Kata-kata dalam tulisan bisa meyakinkan prospek. Namun, tidak semua tulisan bisa menarik perhatian pembaca. Berikut ini sembilan rahasia membuat tulisan yang kuat dan persuasif, yang dapat memotivasi pembaca untuk bertindak.

Rahasia #1: Menulis kepada seseorang, anda. Coba anda membandingkan tiga pernyataan berikut ini:
(1) Bagaimana meningkatkan hasil pemasaran;
(2) Bagaimana para pemasar meningkatkan hasil pemasaran;
(3) Bagaimana anda bisa meningkatkan hasil pemasaran.
Dalam kalimat ketiga, ketika kata “anda” digunakan, pembaca langsung melihat dan merasakan bahwa dirinya menjadi fokus dari tulisan itu. Jadi, pada saat pemasar menggunakan kata “anda”, prospek langsung merasa disapa dan merasa dirinya menjadi fokusnya dari pesan pemasaran itu. Kalau di sekolah kita diajarkan untuk menulis kepada orang ketiga, tetapi dalam pemasaran kita menulis untuk orang kedua, selalu menyapa para pembaca dengan sebutan “anda”.

Rahasia #2: Menerjemahkan keunggulan (fitur) ke dalam manfaat. Sebuah fitur merupakan fakta tentang anda atau bisnis anda. Manfaat adalah apa yang klien dapatkan ketika menggunakan fitur itu. Anda menghubungkan fitur dan manfaat dengan kata-kata “ini berarti”. Contohnya: Kami punya tujuh orang tim layanan pelanggan. (Lantas, apa manfaatnya bagi klien anda?) Ini berarti … kami dapat melayani semua kebutuhan pelanggan secara cepat dan tepat. (atau apapun artinya bagi pelanggan anda). Sebab itu, daftarkan semua competitive advantage dan fitur yang anda tawarkan kepada pelanggan. Kemudian terjemahkan fitur-fitur itu ke dalam manfaat yang dapat dinikmati pelanggan selama bekerja sama dengan anda.
Setiap kali anda menulis sesuatu dalam sebuah dokumen pemasaran, ungkapkan selalu manfaat yang anda tawarkan kepada klien. Ketika anda menerjemahkan fitur-fitur itu ke dalam manfaat, anda mengungkapkan alasan-alasan mengapa orang-orang menggunakan produk/jasa anda. Nyatakan manfaat-manfaat yang anda tawarkan dengan cara apa yang prospek inginkan, rasakan dan lakukan. Ingat, prospek tidak akan menggunakan jasa/produk anda sampai dia tahu apa manfaatnya bagi dia.

Rahasia #3: Menulis dengan penuh antusiasme. Bangkitkan gairah dari pembaca anda dengan kata-kata yang menggerakkan hati mereka untuk bertindak. Kata-kata yang memiliki impak yang tinggi tidak menjemukan. Pergunakan kata-kata kerja aktif, bukan pasif. Kalimat-kalimat yang aktif akan membuat para pembaca merasa terlibat dalam pesan anda.

Rahasia #4: Pilih kata-kata yang singkat dan sederhana. Tulislah dokumen-dokumen pemasaran anda menggunakan kata-kata yang singkat, padat dan jelas artinya. Kata-kata yang singkat memiliki kekuatan. Orang-orang yang sangat terpelajar sekalipun tidak alergi dengan kata-kata pendek. Para pembaca sangat mudah menangkap pesan yang disampaikan dalam sebuah kata yang pendek. Pergunakan kata-kata yang sangat berarti dan tidak bias. Ingat, apa yang anda katakan lebih penting daripada bagaimana anda mengatakannya. Anda tidak memerlukan bahasa yang berbunga-bunga untuk menyampaikan sebuah pesan secara terus terang. Pilihlah kata-kata yang singkat dan sederhana, tetapi sangat berarti.

Rahasia #5: Pergunakan kalimat-kalimat singkat. Biasanya, kalimat-kalimat singkat lebih mudah dibaca dan dimengerti daripada kalimat-kalimat panjang. Pembaca cenderung tidak tertarik pada kalimat-kalimat yang panjang dan berbelit-belit. Sebab itu, jika anda menemukan kalimat-kalimat yang beranak pinak, coba pecahkan menjadi dua atau tiga kalimat pendek. Mengapa? Saat pertama kali prospek tidak menangkap apa yang anda katakan, mungkin sambil menggerutu dia bilang, “Baik, saya akan membaca tulisan ini kemudian.” Dan anda tahu apa artinya. Namun, tentu tidak semua kalimat pendek. Ada kalimat yang lebih panjang dan yang lainnya lebih singkat. Kalau semuanya serba pendek, tulisan anda kelihatan tidak mengalir.

Rahasia #6: Pergunakan paragraf pendek. Setiap alinea tidak lebih panjang dari lima baris. Ingat, bukan lima kalimat, melainkan lima baris. Kalau sebuah alinea lebih panjang dari lima baris, coba pecahkan menjadi dua alinea pendek. Usahakan panjang alinea bervariasi antara yang pendek dan yang lebih panjang. Jangan serba panjang atau semuanya pendek.

Rahasia #7: Yakinkan pembaca dengan fakta. Jika anda ingin prospek menggunakan produk/jasa anda, tulisan anda harus bisa menjawab setiap pertanyaan yang mungkin dia ajukan. Ini berarti tulisan anda akan lebih panjang, tetapi jangan kuatir. Tulisan yang panjang akan efektif bukan karena dia panjang, tapi karena tulisan itu komplit. Sepanjang tulisan anda memuat data-data yang sangat dibutuhkan pembaca, tulisan pasti menarik. Kalau anda mendapatkan prospek yang tertarik, dia akan membaca setiap kata. Anda tidak bisa berharap prospek menggunakan barang/jasa anda jika dia tidak punya informasi-informasi yang dia perlu kan untuk mengambil keputusan. Sebab itu, jangan pelit dan data. Jadi, jangan pelit membeberkan fakta.

Rahasia #8: Perlakukan pembaca anda secara hormat. Selalu berbicara dengan penuh gairah kepada prospek. Pergunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang membangkitkan pengharapan dan semangat dalam hidup mereka. Pujilah keberhasilan dan keberanian mereka. Ketika tersanjung, orang-orang biasanya melihat peluang. Tetapi jika dihina atau dipersalahkan, mereka berhenti membaca dan membuang tulisan anda. Perlakukan prospek anda seakan-akan dia mengendarai Rolls Royce dan menghadari opera.

Rahasia #9: jangan boros kata-kata. Periksalah setiap kata dalam dokumen pemasaran anda. Seberapa penting dan berartinya anda menggunakan satu kata? Apakah dia perlu? Apakah tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu? Apakah kata itu bisa merangsang rasa ingin tahu pembaca sekarang juga? Gunakan kata-kata yang mendukung penyampaian pesan anda secara tepat. Untuk mendapatkan kata-kata yang tepat, setiap tulisan anda harus dibaca kembali dan diedit. Jangan enggan untuk melakukan koreksi secara terus-menerus.

p1

BILBOARD YANG EFEKTIF


Billboard Advertising, merupakan salah satu media promosi yang dipasang di tempat-tempat yang strategis dan mudah dilihat. Penggunaan Billboard sebagai media iklan hakikatnya serupa TV, jika Anda memanfaatkannya hanya dalam waktu yang pendek, maka pesan yang disajikan pada Billboard tersebut tidak akan pernah melekat di alam bawah sadar khalayaknya.

Nah untuk itu berikut ada 8 tips Billboard Advertising, diantaranya :

1. Visibilitas
Billboard neon box itu harus mempunyai visi, apakah pesan iklan yang disampaikan mudah dicerna atau mudah dibaca?. Pertimbangkan ruang lingkup dan pencahayaannya, gambar dan warna yang kontras, serta menyimpan pesan dan desain yang sederhana.

2. Perhatikan waktu
Ruang periklanan biasanya membutuhkan pesan Anda untuk disampaikan dalam waktu yang sangat singkat. Pesan yang efektif dapat dikomunikasikan dalam sepuluh detik atau kurang. Ingat, kebanyakan khalayak yang melihat Billboard neon box adalah pengendara mobil/motor diantara kemacetan lalu lintas yang luar biasa yang sesungguhnya tidak sempat membacanya.

3. Perhatikan ukuran font teks
Buat ukuran font teks dan design neon box yang mudah dibaca dalam jarak jauh sehingga pengendara dari jarak jauh bisa dengan mudah membaca iklan anda.

4. Less is more!
Sajikan pesan iklan dengan konsep yang singkat, padat, dan cerdas sehingga mudah dipahami. Jangan memberikan informasi yang muluk-muluk tentang pesan produk. Design neon box yang menarik tentunya menjadi nilai plus.

5. Pilih warna kontras dan menonjol
Gunakan warna yang kontras agar lebih kelihatan menonjol di banding lingkungan sekitarnya sehingga iklan Anda lebih menonjol dan menarik.

6. Isi Iklan menarik dan sesuai
Gunakan teknologi cetak digital yang terbaik untuk memvisualisasikan pesan teks dan gambar (illustrasi) sign box dengan jelas. Penggunaan gambar juga membantu untuk menyimpan pesan dalam memori pembaca dengan membuat sebuah asosiasi antara gambar dan pesan.

7. Tampilan sederhana dan unik
Dengan tampilan iklan yang sederhana dan unik akan dengan mudah dipahami dan diingat oleh pembaca atau pengendara yang lewat.

8. Lokasi
Pilih lokasi sign box yang eksklusif dan didirikan pada konstruksi yang sengaja dibuat untuk mendirikannya dan bukan berdesak-desakan dengan Billboard yang lainnya atau menempel pada suatu bangunan tertentu. Pastikan bahwa Billboard yang didirikan selalu terlihat (clear) di siang hari dan tersinari dengan pencahayaan yang terang (bright) di waktu malam.

Tips ini menegaskan bahwa tidaklah cepat kita memperbaiki kondisi dengan mengiklankan produk di neon box Billboard. Jika penjualan menurun, Anda tidak bisa dengan cepat membangun kondisi menjadi lebih baik hanya melalui Billboard. Anda harus merencanakan neon box Billboard dengan baik dan jangan pernah melakukan kesalahan. Sekali salah, Anda tidak bisa mengubah persepsi buruk pada seluruh khalayak yang telah melihatnya.

p1

TYPOGRAPHY DALAM SEBUAH LOGO

 
Pengertian tipografi menurut buku Manuale Typographicum adalah :
Typography can defined a art of selected right type printing in accordance with specific purpose ; of so arranging the letter, distributing the space and controlling the type as to aid maximum the reader’s.

Dari pengertian diatas, memberikan penjelasan bahwa tipografi merupakan seni memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.
Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, huruf tak pernah lepas dari kehidupan keseharian. Hampir setiap bangsa di dunia menggunakannya sebagai sarana komunikasi. Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglyphe pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus. Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa. Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad ke-8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi. Perkembangan tipgrafi saat ini mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan (hand drawn) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Berikut kami sajikan beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :

1. Roman
Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.

2. Egyptian
Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.

3. Sans Serif
Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.

4. Script
Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.

5. Miscellaneous
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

Dalam pemilihan jenis huruf, yang senantiasa harus diperhatikan adalah karakter produk yang akan ditonjolkan dan juga karakter segmen pasarnya. Seperti misalnya pada produk minyak wangi untuk wanita jarang yang menggunakan jenis huruf Egyptian karena berkesan kuat dan keras dan biasanya mempergunakan jenis huruf Roman yang bernuansa klasik dan lembut sehingga cocok dengan karakter minyak wangi dan wanita.

p1

TRIK MEMBUAT MERK YANG MENJUAL


Apakah arti dari sebuah nama?,kata kang William Shakespeare.Mawar dengan nama apa pun akan tetap wangi atau sebaliknya nama sebagus apa pun tidak akan membuat sang pemilik nama otomatis menjadi baik pula. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali sesuatu atau seseorang.

Tanda untuk membedakan dengan anak tetangga,tanda agar mudah dikenali,tanda untuk absensi di sekolah,tanda dalam kartu pengenal.Dan berbagai fungsi yang lainya. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama.

Untuk memanggil Semprul misalnya, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki berwajah kotak dan berhidung pesek serta sedikit bloon yang tukang bohong dan berhutang serta ngekos di samping toilet umum….Capee’ deeeeh…

Tetapi dalam Islam nama adalah sebuah do’a dan harapan dan kita dianjurkan untuk memberi nama yang baik kepada anak-anak kita.Dalam konsep Islam minimal ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memberi nama;

Pertama:Nama tersebut mengandung arti pujian seperti;Ahmad atau Muhammad

Kedua:Mengandung arti do’a dan harapan seperti;Aflah atau Sholih

Ketiga:Mengandung arti semangat atau menimbulkan semangat bila mendengarnya seperti;Saefullah atau Asadullah

Tentu tidak etis bila orang tua memberi nama anaknya dengan nama yang berkonotasi negatif semisal;Jahannam,Tengik,Jongos dan lain sebagainya.Mendengarnya saja tidak enak apalagi menyandang nama tsb.

Tidak berbeda jauh dengan teori memilih merek dalam bisnis,kita seharusnya memperhatikan beberapa aspek sehingga merek atau brand kita mendulang sukses.Dan sebuah brand yang bisa dikelola dengan baik bisa berumur puluhan bahkan ratusan tahun,
Bagaimana Coca-cola bisa laris manis sampai hari ini?,salah satu faktornya adalah karena pemilihan nama yang baik.

Berikut ini Trik atau sedikit kiat untuk membuat atau memilih merek,setidaknya menurut yang saya ketahui…..

Pertama; Patuhi hukum S&W (Speakable & Writable), Sebuah merek hendaknya mudah diucapkan dan juga mudah ditulis. Karena sebetulnya merk adalah milik konsumen dan merekalah yang menilai merek Anda, buatlah semudah mungkin agar konsumen dapat membaca dan mengejanya karena bila merek Anda susah diucapakan maka merek Anda akan dilupakan.
Salah satu caranya adalah dengan hanya menggunakan maksimal DUA SUKU KATA,karena kalau terlalu panjang maka akan susah diingat dan membosankan dalam pengucapan.

Kedua;Merek itu harus mempunyai arti yang baik dan diterima konsumen yang dibidik karena bahasa didunia ini sangat banyak sekali dan sebuah suku kata bisa saja mempunyai arti yang baik disatu daerah atau negara tetapi mempunyai arti yang jelek di negara lain.Karena bila hal ini tidak diperhatikan maka akan runyam akibatnya.Paling tidak Anda jangan membuka restoran dengan nama ‘THAI KEBO’ di jawa karena dipastikan tidak akan ada yang mau makan di restoran Anda.tetapi mungkin saja Anda akan menuai sukses bila membukanya di Thailan…he..hee…heeee………

Ketiga.Buatlah merk memiliki makna yang dapat ditangkap oleh konsumen Anda, Xerox identik dengan xeroxgraphy atau teknologi fotocopy, vegeta mengadaptasi dari vegetable atau kaya akan serat, So klin bisa diartikan benar-benar bersih,atau mungkin Anda bisa memberi nama toko Anda ‘Serba Murah’ untuk mengesankan produk yang Anda jual paling kompetitif harganya.Atau bisa juga memilih merk sesuai dengan produk yang anda jual,misalnya Anda hanya menjual kaos oblong,Anda bisa Ketiga.Buatlah merk memiliki makna yang dapat ditangkap oleh konsumen Anda, Xerox identik dengan xeroxgraphy atau teknologi fotocopy, vegeta mengadaptasi dari vegetable atau kaya akan serat, So klin bisa diartikan benar-benar bersih,atau mungkin Anda bisa memberi nama toko Anda ‘Serba Murah’ untuk mengesankan produk yang Anda jual paling kompetitif harganya.Atau bisa juga memilih merk sesuai dengan produk yang anda jual,misalnya Anda hanya menjual kaos oblong,Anda bisa memberi nama toko Anda ‘Istana Oblong’ atau ‘Raja Oblong’.

Keempat; Bentuk logo atau tulisan merek mudah dilihat dan dibaca.
Kadang masih kita temui sebuah merek yang ditulis dengan font yang aneh dan untuk membacanya butuh waktu “seminggu”,seolah olah kita tidak boleh mengetahui merknya. Bagaimana konsumen akan tertarik dengan produk yag dijual bila mereknya saja sulit mereka kenali.Begitu juga dengan logo,usahakan memperhatikan pada public attention serta memberi citra yang baik pada brand itu sendiri.Bukan malah semakin membuat bingung konsumen.

Kelima;Bisa saja Anda membuat nama merk Anda berupa plesetan atau kata-kata yang unik sehingga membuat penasaran banyak orang dengan harapan mereka akan menjadi konsumen Anda.Setidaknya itu dilakukan oleh TUKANG TAMBL BAN pada foto diatas yang memberi nama usahanya ITB singkatan dari INSTITUT TAMBAL BAN.

Semoga bisa menjadi inspirasi….

Salam sukses slalu…

p1

TIPS DAN TRIK PRA CETAK


Prepress atau Pracetak adalah semua proses digital untuk menyiapkan desain cetak (artwork, graphic design) dengan menggunakan perangkat komputer, dimulai dari input data sampai desain siap cetak atau Final Artwork.

Ada beberapa aturan yang harus diikuti oleh desainer grafis untuk mendapatkan hasil cetak yang konsisten (hampir 100% sama persis) dengan apa yang terlihat di monitor komputer. Dalam kenyataannya banyak sekali terjadi kesalahan pada pencetakan yang disebabkan karena pekerjaan desain grafis tidak dilakukan dengan benar pracetak ini.

Inilah daftar masalah yang patut diperhatikan dan diwaspadai pada saat tahap Prepress berlangsung:

1. Missing Font.
Hal ini terjadi apabila kita memilih/memakai font yang tidak terdefinisi oleh printer postscript. Atau font yang digunakan tidak ikut dicopy ke disc saat di bawa ke percetakan (apabila kita mendesain sendiri halaman publikasi-kemudian dikirim ke percetakan), sedangkan di percetakan font tersebut tidak tersedia. Untuk itu, copy-lah font tersebut atau di-convert terlebih dahulu dalam desain artwork sebelum diserahkan ke percetakan / tempat pembuatan film. Usahakan sebelum meng-convert dokumen artwork dalam proses prepress, save-lah terlebih dahulu format teks aslinya secara terpisah sebagai dokumen cadangan.

2. Wrong file format.
Artwork cetak biasanya menggunakan format file .TIFF atau .EPS untuk gambar. Sehingga kalau Anda mendefinisikan file gambar Anda ke JPEG atau GIF dan lainnya untuk keperluan cetak offset, maka warnanya tidak akan sesuai dengan hasil cetak dan kualitas pixel (unsur terkecil dari gambar digital) akan rusak. Format tiff berukuran sangat besar, dan akan menjadi kendala jika pengiriman harus dilakukan by email. Tapi bagaimanapun juga hindari mengirimkan gambar dalam format jpg atau gif .

3. Incorrect page setting or Page Set-up.
Gunakan set-up halaman sesuai ukuran yang diperlukan. Jangan lupa diingat, untuk cetakan seperti brosur, undangan dan sejenisnya, sisi-sisinya akan dipotong dengan mesin potong kertas, jadi jangan lupa menambahkan luas area design beberapa milli lebih besar dari area cetak. Output harus selalu dibuat dalam ukuran sebenarnya, hanya resolusinya saja yang disesuaikan sesuai penggunaan.

4. Missing graphics. or graphic not linked.
Jika anda mengirimkan file dalam format Freehand, PageMaker atau Quark Express, Anda tetap harus mengcopy file gambar Anda ke dalam disk yang Anda kirim ke percetakan atau tempat pembuatan film (repro), karena jika tidak gambar yang anda insert dalam artwork anda tidak akan muncul di komputer yang lain.

5. Resolution
Resolusi adalah tingkat kecerlangan (dpi, dot per inch, pixel per inch) pada gambar. Terlalu tinggi resolusi akan menyebabkan hasil yang tidak maksimal dan berlebihan sehingga memboroskan tinta. Sementara resolusi yang didefinisikan terlalu rendah akan menyebabkan gambarnya pecah atau kabur. Untuk cetak offset seperti brosur, iklan koran, majalah, dll, besaran dpi-nya minimal 300 dpi. Sedangkan cetak digital untuk keperluan outdoor (baliho, billboar, spanduk dll) bisa menggunakan 32 dpi sampai 100 dpi tergantung ukuran medianya. Untuk backdrop yang biasa dilihat dalam jarak relatif dekat sebaiknya menggunakan resolusi tidak kurang dari 72 dpi, tapi untuk billboard ukuran bisa menggunakan resolusi 32 dpi.

6. Incorrect colours.
Karena unsur warna yang digunakan monitor (komputer) berbeda dengan unsur warna cetak (percetakan) maka sering terjadi hasil cetak yang meleset warnanya. Hal ini harus kita pahami, karena komputer grafis menggunakan unsur warna sinar Red, Green, Blue (RGB Color). Sementara percetakan menggunakan unsur warna tinta Cyan, Magenta, Yellow, Black (CMYK Color). Jadi kita harus menggunakan warna CMYK apabila kita ingin membuat artwork cetak. Kalau sudah terlanjur menggunakan RGB, maka rubahlah kedalam format warna CMYK.

7. Make the Black color as a special one.
Sebaiknya tidak menggunakan warna selain hitam untuk mewarnai teks (apalagi huruf kecil2) atau garis outline pada arwork yang anda buat. Ini untuk mencegah teks/garis menjadi terlihat dobel karena registrasi yang kurang presisi. Bila ada teks yang perlu direvisi pada saat2 terakhir sebelum dicetak, anda hanya perlu mengganti selembar film saja pada warna Black-nya, tidak perlu mengganti 3 lembar lainnya (Cyan, Magenta dan Yellow).

8. Proofing.
Sebelum dicetak, kita harus melakukan proofing untuk mengetahui contoh hasil cetak nantinya. Nah, kalau kita mencetak hasil proofing dengan menggunakan printer selain printer laser atau color digital printing, biasanya hasilnya akan meleset dari perkiraan. Sekarang sudah banyak printer warna digital sampai ukuran A3+ sebagai sarana proofing sebelum naik cetak. Lebih baik lagi bila anda membuat Progressive Proof untuk mengejar presisi warna yang cocok sesuai tuntutan kualitas yang anda inginkan.

p1

KOMPOSISI DISAIN GRAFIS


Desain grafis memiliki beberapa macam basis karya dengan melihat komposisi elemen-elemen yang terdapat dalam karya tersebut, diantaranya adalah:

Desain berbasis Image
Desainer membangun image yang merupakan representasi dari gagasan pribadinya atau client bisnisnya. Image sangat kuat untuk dipercaya dan merupakan alat komunikasi yang dapat mempengaruhi, mampu menyampaikan tidak hanya informasi tetapi juga suasana hati dan emosi. Orang akan bereaksi terhadap image secara instinktif berdasar pada kepribadian mereka, asosiastif berdasarkan lingkunganya, dan experientatif akibat pengalaman sebelumnya.
Image diambil dengan berbagai cara dan teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi dan media. Di dalam Desain berbasis Image, hal utama yang harus diperhatikan seorang desainer adalah memahami bahwa image-image yang diekspose harus membawa keseluruhan pesan, untuk itu terkadang desainer memberi sedikit teks untuk bantuan. Karena setiap image yang tampil merupakan bahasa yang harus disampaikan, maka pada sebuah proses eksekusi sebuah image, seorang desainer juga harus memahami bagaimana pentingnya memanajemen kepekaan terhadap calon penerima pesan, sehingga desainer tidak membabi buta dengan mengandalkan selera estetisnya belaka dalam menampilkan image tersebut. Bukankah sebuah gambar dapat memunculkan ribuan makna dan maksud? Maka, arah dari maksud tersebut harus dapat tersampaikan dengan image yang dieksekusi oleh desainer.

Desain berbasis Type
Dalam beberapa hal, para desainer bersandar pada teks untuk menyampaikan suatu pesan, tetapi mereka menggunakan kata-kata dengan cara yang berbeda dari tatacara yang biasa dilakukan oleh para penulis. Bagi para desainer, mereka melihat visual teks adalah sama pentingnya seperti maksud atau arti dari teks itu sendiri. Format visual teks, baik tipography yang dicetak atau penulisan buatan tangan, memiliki fungsi yang sama yaitu untuk melaksanakan fungsi komunikasi dan seorang desainer pasti sadar bahwa keberadaaan teks harus memiliki fungsi readibility/keterbacaan. Teks juga dapat menghentikan perhatian pada suatu maksud tertentu dan mengidentifikasi sebuah makna pada suatu tampilan visual. Namun keterbacaan teks akan diolah oleh desainer tidak hanya mengandalkan arti sebuah teks secara leksikal saja atau hanya sesuai dengan tata bahasa saja , tapi juga menyebutkan maksud atas peranan teks itu sendiri secara fisik. Sebagai contoh, kita tidak akan menemukan dalam sebuah kemasan pasta gigi yang menuliskan merk-nya dengan menggunakan teks bergaya ‘Stencil’, karena image Stencil font identik dengan style Army Look.

Hampir semua desainer sepakat bahwa penggunaan teks sebagai sebuah tampilan visual dengan tanpa mengabaikan fungsi keterbacaan adalah penting. Mari kita perhatikan pada suatu “halaman umum” yang didalamnya tercetak sebuah teks, pernahkah muncul sebuah pertanyaan, apakah kerja desain grafis dilibatkan didalam merancang halaman yang nampaknya sederhana seperti itu? Pikirkanlah, apa yang anda akan lakukan jika anda diminta untuk mendesain kembali halaman itu. Akankah anda merubah jenis typeface atau ukurannya? Akankah anda membagi teks ke dalam dua kolom yang lebih ramping? Bagaimana dengan garis tepi dan pengaturan jarak antar paragrap? Akankah anda menekuk atau memberi spasi pada setiap paragrap atau mungkin memulai dengan perubahan teks berupa rekayasa tulisan hias? Apakah anda akan memberikan kekuatan pada teks dengan dengan cara memberi nomor, jumlah halaman atau penulisan teks tertentu pada setiap bab? Akankah anda merubah sebuah terminologi dengan cara membuat cetak tebal pada teks tersebut, atau barangkali menggunakan huruf italic/miring dan atau huruf yang bergaris bawah? Adakah hal lain yang dapat memberikan kekuatan dan tekanan dalam sebuah perubahan yang anda pertimbangkan, atau seberapa kuat teks-teks ini akan mempengaruhi reaksi para pembaca? Perlu diketahui, bahwa semua pertanyaan diatas dilakukan dan dijawab oleh Designer pada saat memulai pekerjanya hingga proses evaluasi sebelum teks-teks itu diputuskan untuk dikomunikasikan.

Desain berbasis Image dan Type
Para desainer sering mengkombinasikan antara tipography dan image untuk mengkomunikasikan satu pesan pada audience. Eksplorasi dengan berbagai kemungkinan kreatif yang dipresentasikan dalam kombinasi tipography (teks dan sebagainya) dan image (fotografi, ilustrasi, dan seni rupa), bertujuan memberi tampilan serta informasi yang lengkap. Sehingga para desainer tidak hanya menciptakan kesesuaian antara ‘letterforms’ dan image belaka tetapi juga untuk menetapkan keseimbangan terbaik diantara keduanya.
Desain berbasis Simbol, Logo dan Logotype
Simbols dan logo adalah hal yang spesial, berbentuk informasi yang sangat ringkas dan berfungsi sebagai ‘identifers’. Simbol adalah reperentasi abstrak dari gagasan atau identitas tertentu. Logo adalah visual dalam format simbolis yang berfungsi mewakili konsep-konsep atau kelompok tertentu. Logotypes adalah identifikasi-identifikasi baik konsep maupun kelompok yang visualnya didasarkan pada suatu deretan kata atau teks yang dirangkai khusus. Beberapa identitas merupakan ‘hybrid’ atau kombinasi antara logotypes dengan simbol. Dalam menciptakan ‘identifiers’, desainer akan menetapkan sebuah visual yang jelas dan sesuai dengan visi dan misi sebuah korporasi, kelompok, konsep atau gagasan sehingga terwakili dan sesuai dengan masing-masing tujuannya.

Desainer Grafis, Sumber Pesan dan Audience
Pada suatu pihak, sebuah sumber pesan terkadang terlalu dekat dengan isi pesan itu sendiri, tentunya mengandung unsur subyektifitas yang sangat tinggi, sehingga perlu dicari cara untuk dapat memperkenalkan dan memahamkan pesan-pesan tersebut. Audience, pada sisi lain, adalah sebuah komunitas kompleks, yang sangat luas dan memiliki macam ragam karakter. Hal itu berdampak langsung dengan bagaimana cara atau mekanisme dalam mengkomunikasi pesan-pesan tersebut. Lebih dari itu, pada umumnya sukar untuk membuat audience menjadi bagian dari proses komunikasi.

Berbeda dengan sumber pesan dan audience, para desainer grafis belajar bagaimana cara membangun sebuah pesan dan bagaimana cara menyajikan itu dengan sukses dan baik. Karena para desainer grafis adalah mata rantai diantara sumber pesan dan audience, mereka memiliki dua sisi pekerjaan yang harus dilakukan. Pertama, mereka bekerja dengan sumber pesan (dalam hal ini adalah client) untuk memahami isi dan tujuan pesan. Kedua, bekerja sama dengan peneliti-peneliti pasar dan spesialis-spesialis lain bahkan dengan kondisi riil dari masyarakat untuk memahami sifat alami para audience.

p1